Senin, 09 November 2015

Semuanya Berubah

Semuanya berubah setelah kamu hadir di keseharianku. ‘Kita’ menjadi lebih sering berdefinisi aku dan kamu. Sehingga aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Semuanya berubah setelah kamu menemaniku belajar tentang cinta. Aku merasa cintaku bertambah, tak mengurangi deretan cinta yang pernah aku bangun di atas garis yang membentang antara aku dan orang-orang di sekitarku. Bukan cinta tentang kepuasan pada rupa, harta, dan tahta. Ia seperti melakukan lompatan yang tinggi dan jauh hingga tidak ada lagi aku temukan jurang yang menganga dan menawarkan diri untuk diisi.

Selasa, 30 Juni 2015

Kemuliaan dalam Kebersamaan

Sensitifitas kita selaku manusia mungkin akan membuat kita mengeluh lalu ingin menjauh dari lingkungan yang membuat kita merasa terganggu dan tertekan. Menjauhi keramaian, menutup diri, dan memilih waktu-waktu sendiri. Namun setelah itu kemudian kita mengalami perasaan yang paradoks, ingin ada sosok yang menguatkan, membantu, dan mendorong kita untuk kuat. Ratapan dan do’a kita panjatkan berharap Allah Ta’ala segera mengabulkan, atau berandai-andai atas sosok yang mampu mendukung dan membantu permasalahan kita.

Senin, 20 April 2015

Rumus Kehidupan

Pada awalnya dan biasanya, ketika ada pengaduan keluh serupa:
“padahal saya sudah begini hingga begitu, kenapa hasilnya tidak juga sesuai dengan yang saya harapkan?!”

aku akan merespon dengan senada berikut:
“Oh, mungkin apa yang kita lakukan masih belum tepat, berarti harus kita cari lagi cara lain yang lebih hingga paling tepat.”

Senin, 30 Maret 2015

Cinta Mandalika

Pertengahan Februari 2015, selepas shalat isya, beberapa hari sebelum meninggalkan Sumbawa, seorang tetangga berbagi sebuah cerita legenda. Beliau membuka cerita dengan kalimat "kita telah melewatkan momentum kerakyatan di masyarakat Lombok". Ada sebuah tradisi kerakyatan Lombok Tengah bagian Selatan yang dilakukan tahunan di sekitar pertengahan Februari dan membuat masyarakat berbondong-bondong meramaikan kawasan tepi pantai Seger Kuta. Tradisi kerakyatan ini memiliki latar belakang legenda yang bisa kita ambil pelajaran dan hikmahnya.

Markidot..

***

Kamis, 26 Februari 2015

Sa su ada di Papua!!

Genap 1 minggu aku di sini, Papua. Dalam catatan kehidupanku, ini perjalanan terjauh yang pernah aku tempuh di negeri sendiri, alhamdulillaah. Kali ini bukan sekedar melancong, tapi memikul amanah yang cukup besar untuk pendidikan di Papua. Teman-teman di pulau Jawa biasanya langsung respon semacam “wuiihh...!! ngapain lu di sana??”, nampak heboh. Beberapa respon dengan tambahan penilaian negatif, “haduh, di sana tuh ya bla bla bla bla.... (dst)”. Konflik lah, budaya lah, malaria lah, cuaca lah, macam-macam.

Yap, Papua. Jika kita terbiasa hidup hanya dengan persepsi ideal secara umum, misal; rapi, sejuk, sampah yang ditumpuk manis di tempatnya, saluran air pemukiman jernih, sapaan ramah, bebas nyamuk, dsb., aku jamin kita akan kecewa dan ngebet mau kembali pulang sesampainya di sini. Tapi lain hal jika kita memiliki harapan bahwa kita datang dengan membagi dan mempelajari kearifan di sini, insyaa-Allaah, kita bisa menerima kondisi lalu bergerak tanpa menengok keluhan. Salah seorang saudara seperjuanganku mengatakan “saudaraku, banyak sekali peluang dakwah di sana, selamat!”. Mantap to persepsi saudaraku itu?!

Jumat, 02 Januari 2015

Resonansi Ujung Hari

Banyak manusia mencarimu malam tadi
Di sela-sela hingar-bingar malam hari
Di celah-celah lubang terompet ujung hari
Di kerlap-kerlip ledakan kembang api
Di deru raung knalpot motor modifikasi
Di gelak tawa berpasang muda-mudi
Di denting-denting botol tuak anggur basi
Di sedu-sedan tangis muhasabah dini hari
Berbusa-busa bicara tentang resolusi
revolusi
refleksi
evaluasi
hingga mimpi dan janji-janji delusi
.....
Banyak manusia mencarimu malam tadi
Lalu hari ini kembali tak sadarkan diri
Mungkin hingga ujung tahun nanti
Dan di saat itu terjadi, kembali berpura-pura mencari
Padahal, syurga, bukankah engkau itu ada setelah mati?
.....

Sumbawa Besar, 1 Januari 2015

Jumat, 12 Desember 2014

Catatan Emas Sejarah Muslimah

Peradaban kehidupan manusia dan semesta adalah kumpulan sejarah dalam hitungan waktu yang pernah hadir. Secara sunnatullaah, keberadaan kita sekarang pun adalah buah keberadaan orang-orang sebelum kita. Allah ta’ala telah menjelaskan dalam al-Qur`an bahwa Dia telah menciptakan manusia secara berpasangan yang dari keduanya lahirlah generasi hingga kesemuanya tersebar berbangsa-bangsa (QS. an-Nisâ`:1; al-Hujurât: 13).

Satu sosok yang diakui paling berpengaruh dalam tumbuh kembangnya sebuah generasi adalah sosok ibu (wanita). Ada kata-kata hikmah yang menyatakan bahwa “wanita itu tiang Negara, bila dia baik, maka baiklah negara itu. Tetapi bila wanita itu rusak maka rusaklah negara itu”. Bisa kita bayangkan secara logis, jika yang melahirkan, –terutama- yang mengasuh dan mendidik seorang anak adalah sosok ibu yang rusak akhlaknya, maka akhlak anaknya itu sebagai generasi dari sebuah Negara (peradaban) juga akan mengalami kerusakan yang tidak jauh berbeda.