Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2014

Catatan Emas Sejarah Muslimah

Peradaban kehidupan manusia dan semesta adalah kumpulan sejarah dalam hitungan waktu yang pernah hadir. Secara sunnatullaah, keberadaan kita sekarang pun adalah buah keberadaan orang-orang sebelum kita. Allah ta’ala telah menjelaskan dalam al-Qur`an bahwa Dia telah menciptakan manusia secara berpasangan yang dari keduanya lahirlah generasi hingga kesemuanya tersebar berbangsa-bangsa (QS. an-Nisâ`:1; al-Hujurât: 13).

Satu sosok yang diakui paling berpengaruh dalam tumbuh kembangnya sebuah generasi adalah sosok ibu (wanita). Ada kata-kata hikmah yang menyatakan bahwa “wanita itu tiang Negara, bila dia baik, maka baiklah negara itu. Tetapi bila wanita itu rusak maka rusaklah negara itu”. Bisa kita bayangkan secara logis, jika yang melahirkan, –terutama- yang mengasuh dan mendidik seorang anak adalah sosok ibu yang rusak akhlaknya, maka akhlak anaknya itu sebagai generasi dari sebuah Negara (peradaban) juga akan mengalami kerusakan yang tidak jauh berbeda.

Senin, 10 November 2014

Menelisik Jejak-Jejak Nasionalisme Indonesia

Sejenak kita menengok buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk mencari makna nasionalisme, maka kita akan mendapati definisi yang sederhana tentang suatu paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Jika diuraikan, asal katanya dari kata ‘nasional’ yang memiliki akar kata dari bahasa Latin yaitu ‘nation’ yang salah satu maknanya adalah ‘bangsa’, kemudian digabung dengan kata ‘isme’ yang bermakna paham atau sistem kepercayaan. Sebagai sebuah ideologi, nasionalisme ini kemudian diasumsikan berperan membangun kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual sehingga anggota bangsa itu bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa mereka.

Kapan dan bagaimana nasionalisme hadir di tengah-tengah kehidupan manusia? Ada yang berpendapat bahwa nasionalisme mulai tumbuh dan naik daun pada abad 20 sebagai kekuatan politik kontemporer, termasuk dalam daftar produk-produk era modern. Ada yang merasa bahwa gagasan nasionalisme ini sudah muncul sejak masa revolusi Prancis di akhir abad 18. Ada juga yang berpendapat bahwa ideologi ini sudah muncul alamiah dan mendarah-daging pada diri seorang manusia sedari zaman nenek moyangnya. Fakta yang bisa kita telisik dari sejarah Indonesia khususnya mengatakan bahwa peperangan yang terjadi di sepanjang singgungan pribumi dengan Belanda di Nusantara ini hingga akhir abad 19 tidak disebabkan oleh permasalahan yang menyinggung semangat yang semakna dengan nasionalisme modern, karena ternyata peperangan itu memiliki latar belakang sejarah yang lebih disebabkan oleh kepentingan pribadi, politik lokal, dan ekonomi.

Selasa, 20 Desember 2011

Belajar tentang Kecewa dari Ji'ranah

..... sebuah inspirasi yang pernah dibagikan oleh Ustadz Dwi Budiyanto .....

Dari Ji'ranah Kita Belajar tentang Kecewa...

Di Ji'ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan. Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.

Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry. Maka, hari itu di Ji'ranah, ada yang kasak-kusuk, "Demi Allah, Rasulullah saw telah bertemu kaumnya sendiri!" Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.