17 Juni 2012. Aku
sadar bahwa besok aku terancam melewati Ujian Akhir Semester dengan tidak
optimal karena waktu-waktu persiapannya aku habiskan dengan perjalanan ini.
Perjalanan yang begiku lebih bermakna karena akan berkumpul dengan keluarga tercinta
di Ciamis dan menyaksikan adik bungsuku diwisuda di sini, di acara Haflatul Ikhtitaam
Pondok Pesantren Husnul Khotimah, wisuda kelulusan Madrasah ‘Aliyah. Adikku
lulus Ujian Nasional dan lulus meng-khatam-kan
hafalan 30 Juz Al-Qur’an. Atas prestasinya itu dan meluap-luapnya
rindu-cinta-bahagiaku, aku relakan waktu, perhatian, dan tenagaku lebih tercurahkan ke
sana.
Selasa, 19 Juni 2012
Senin, 18 Juni 2012
Yang Muda dan Anti Galau, Yang Dewasa dan Luar Biasa
Entah yang
keberapa ratus kalinya satu kata ini masuk di telingaku, G.A.L.A.U, -kamu juga
mungkin senasib denganku, kecuali kalo
kamu kagak gaul! hehehe- (:p). Kata ini
dipopulerkan lewat judul lagu, bahasa pergaulan di tayangan sinetron-sinetron,
dan iklan provider jasa komunikasi.
Sejak awal 2011 mulai ramai mempopuler, baru lewat setahun. Yakin banget kalau kata ini sudah lahir dari
zaman dahulu kala, mungkin semenjak diresmikan adanya bahasa Indonesia di muka
bumi ini, atau mungkin juga serapan dari istilah bahasa lain yang tentunya
lebih tua. Buka aja buku KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia) atau kamus-kamus Bahasa Indonesia lainnya yang ngendon manis di lemari perpustakaan
atau di tumpukan buku-buku berdebu yang kamu punya (*agak nyindir diri sendiri).
Si kata galau ini ternyata mengandung makna yang gak jauh dari ‘kacau’, ‘gak karuan’, ‘berantakan’, dan saudara-saudaranya
yang lain.
Jumat, 18 Mei 2012
Indonesia Yang Gak G*blok, Indonesia Yang Go Blog : Sebuah Refleksi Gerakan Creative Minority
Ini
mungkin tidak seperti dalam
drama I Know What You Did From Facebook
atau Republik Twitter. Ini cerita
yang berbeda. Tentang sekelompok kecil, creative minority yang jengah dengan
realitas problematika kebangsaannya, jengah dengan ‘barang-barang kotor’ yang
tersebar bebas di dunia maya dan akhirnya melebur ke dunia nyata. Jajahan versi
baru di era globalisasi. Kejengahan mereka yang menjelma kekhawatiran pada masa
depan bangsa. Kekhawatiran mereka yang tersolidisasi menjadi karya-karya
gagasan revolusioner dalam dunia per-Blog-an.
Selasa, 01 Mei 2012
Aku, Tulisan, Inspirasi, dan Sinergi, Berteriak Membangun Negeri
Seorang kopral kecil veteran Perang
Dunia II yang berhasil menjadi ‘kaisar Jerman’, pernah mengatakan dalam bukunya
yang berjudul Mein Kampf; “Ich konnte reden” dan “jede grosse Bewegung auf dieser Erde
verdankt ihr Wachsen den grosseren Rednern und nicht den grossen Schreibern”.
Kurang lebih artinya; “gerakan besar di dunia dikembangkan oleh ahli-ahli pidato,
bukan oleh ahli-ahli menulis”. Sekilas saja mungkin dapat membuat kepala kita
termangut-mangut, lalu bergumam "ane harus pinter retorika, pinter ngomong" setelah membaca kalimat tersebut. Namun setelah disertai proses
renungan, aku akhirnya mengambil kesimpulan sepertinya dia tidak sadar bahwa pada
awalnya dia mengatakan kata-kata sakti itu dalam bentuk tulisan, yang kemudian
juga menginspirasi pergerakan massa.
Sabtu, 28 April 2012
Sepotong Episode Menegakkan Langkah
“Deklarasi syahadat
itu harus dirayakan bung
Ada banyak ruang,
dalam 3 dimensi ungkapan cinta
Ya kamu merasakan
getaran kebenarannya di sanubari dan jiwa
Ya kamu mengucapkannya,
kata-kata tentang rasa
Ya kamu bekerja semaksimalnya,
sekuat sekemampuan raga”
Kuranglebih begitulah landasan prinsipnya ketika kaki harus
menghadapi dilema menegakkan langkah.
Selasa, 27 Maret 2012
Eksplorasi Makna Ukhuwwah: Tentang Ekspresi dan Aktualisasi Ukhuwwah
Dia adalah tautan rasa kepemilikan atas darah, jiwa, cinta, empati, ideologi, sejarah, prinsip, ‘aqidah. Kemudian beberapa menganalogikannya sebagai kerinduan untuk perjumpaan, beberapa yang lain memaknainya sebagai kebersamaan yang syahdu, beberapa yang lainnya lagi mengumpamakannya sebagai sinapsis-sinapsis dalam sistem jaringan syaraf. Identik tapi unik.
Dia adalah jutaan jiwa dalam satu tubuh. Jika kaki kita terantuk karang, tangan tak kuasa berdiam untuk meraihnya, mulut tak ambil pusing untuk menunjukkan ekspresi termanyun-manyun lalu mengaduh, mata tak tega untuk tidak menggenangkan sedihnya, dahi tak tertahan untuk tidak mengerutkan keprihatinan. Dalam ukhuwwah kita mencoba untuk merangkai lengkung rasa yang sama; senyum dengan senyum, cemberut dengan cemberut, dan yang luar biasa adalah cemberut dengan senyum.
Dia adalah jutaan jiwa dalam satu tubuh. Jika kaki kita terantuk karang, tangan tak kuasa berdiam untuk meraihnya, mulut tak ambil pusing untuk menunjukkan ekspresi termanyun-manyun lalu mengaduh, mata tak tega untuk tidak menggenangkan sedihnya, dahi tak tertahan untuk tidak mengerutkan keprihatinan. Dalam ukhuwwah kita mencoba untuk merangkai lengkung rasa yang sama; senyum dengan senyum, cemberut dengan cemberut, dan yang luar biasa adalah cemberut dengan senyum.
Selasa, 24 Januari 2012
Miles Away With You: Sebuah Catatan Pertemuan dan Perjalanan Cinta
Menemukanmu adalah suatu perjuangan, ketika cinta telah terpautkan dalam hitungan yang hampir menjemukan. Aku telah jatuh cinta padamu sejak lama! Lalu hampir putus asa, di saat bekalku terancam tidak bisa memenuhi ruang untuk mendapatkanmu. Di saat setiap sudut bumi tidak memberikan jejak kepastian akan keberadaanmu yang ter-ideal. Waktu itu banyak yang menawarkan keunggulan, tapi bagiku hanya kamulah yang terunggul, yang telah tertanam mengakar kuat dalam imajinasi sadar dan mimpiku.
Teringat waktu itu, Maret 2011, di saat bundaku tersayang datang berkunjung ke Yogyakarta hendak mengantar kepergian studi kakakku ke negeri seberang. Dalam sebuah dialog kasih sayangnya, beliau memberikan pesan saktinya padaku, “nak, sudah ibu siapkan uangnya, pokoknya harus sudah dapat kepastian sebelum ibu pulang”. Ah, seketika ada desiran halus di jiwa yang mendentumkan detak jantung, membinarkan mata lahir-batin, lalu refleks lisanku memuji, “Alhamdulillaah”. Tiga hari keberadaan bundaku di Yogyakarta, di saat itu, adalah kegembiraan tiada tara juga kecemasan mengembara.
Langganan:
Postingan (Atom)