Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perpisahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

Sebuah Catatan tentang Wisuda di Usia Emas

Sepanjang masa pendidikan tinggi, wisuda mungkin adalah momen yang paling dinantikan oleh seorang mahasiswa selain sidang skripsi. Ibarat pendakian gunung, kedua momen itu adalah puncak pendakian untuk rehat dari lelah dan mengahabiskan kalori untuk tersenyum dan mengabadikan pemandangan kebahagiaan. Pernah mendaki gunung hingga puncak? Ya, saat menjejak puncak itulah kita biasanya menunjukkan kepuasan dan kebanggaan, memasang pose yang paling gagah dengan bahasa tubuh yang seolah-olah mengatakan “hei, aku udah pernah nyampe sini lho! B-) ”

Aku sempat berfikir dan berniat untuk tidak mengikuti prosesi wisuda karena tidak menemukan esensi yang urgen dari seremoni itu. Setelah orang tua merespon negatif gagasanku itu dan aku akhirnya tahu bahwa ikut atau gak ikut wisuda aku tetap diharuskan membayar administrasi wisuda, akhirnya aku memutuskan untuk izin meninggalkan tempat kerjadi Balikpapan beberapa hari, menyeberangi Laut Jawa demi mengikuti wisuda. Apalagi, suatu hari ibuku pernah memamerkan baju barunya dengan wajah sumringah seraya berkata, “ini baju baru yang akan dipakai di wisudanya Iqbal”, hingga melelehlah sang ananda waktu itu, dan syahdu lelehannya masih terasa hingga kini.

Selasa, 19 Juni 2012

Catatan Perjalanan Terkenang Janji


17 Juni 2012. Aku sadar bahwa besok aku terancam melewati Ujian Akhir Semester dengan tidak optimal karena waktu-waktu persiapannya aku habiskan dengan perjalanan ini. Perjalanan yang begiku lebih bermakna karena akan berkumpul dengan keluarga tercinta di Ciamis dan menyaksikan adik bungsuku diwisuda di sini, di acara Haflatul Ikhtitaam Pondok Pesantren Husnul Khotimah, wisuda kelulusan Madrasah ‘Aliyah. Adikku lulus Ujian Nasional dan lulus meng-khatam-kan hafalan 30 Juz Al-Qur’an. Atas prestasinya itu dan meluap-luapnya rindu-cinta-bahagiaku, aku relakan waktu, perhatian, dan tenagaku lebih tercurahkan ke sana.

Senin, 29 Agustus 2011

Dialog di Penghujung Pertemuan

Waktu itu mungkin terlalu pagi untuk dikatakan pagi di saat aku bertemu dengannya, di alam abstraksi. Dini hari, dan langit masih dalam kelam. Sendu, aku rasakan raut mukanya. Masygul tangannya berkemas. Mematut-matut penampilannya.

“Apakah sudah saatnya?” tanyaku.

“Iya”, pendek jawabannya, nampak enggan menoleh. Tapi aku bisa melihat perubahan raut mukanya, Nampak otot pipinya melebar. Senyum?

Aku menyambut jawabannya dengan menarik nafas cukup dalam, mencoba mengisi rongga-rongga alveolus yang seraya menyesak. Aku menunduk, “Serasa belum lama ini kamu datang ya sobat”, kata-kata itu keluar dari mulutku bersamaan dengan nafas keluaran.

“Syukurlah kalau masih menganggapku sahabat”, dia merespon, masih tanpa menoleh. Respon yang membuat aku mengerutkan otot-otot antara kedua alis mataku. “Tapi sungguh, aku sudah cukup mendapatkan banyak pengkhianatan dari orang-orang yang menganggapkanku demikian. Terlebih dari mereka, yang berbusa-busa memuji-mujiku, menceritakan tentang kebaikan-kebaikanku, mengancam orang-orang yang mengacuhkan dan menyesalkan aku, namun belakangan mereka akhirnya berkomplot dengan orang-orang yang mereka ancam”, ada nada menggantung, dia masih belum selesai bicara. “Semoga kamu tidak menjadi bagian dari mereka”. Kali ini dia menoleh. Dan benar, otot pipi yang terlihat melebar dari belakang memang mengguratkan senyum, namun ternyata garis alis dan matanya mengatakan keprihatinan.