Senin, 18 Agustus 2014

Cerita Santri dan Sabun

Dalam kehidupan pesantren, aku selalu menemukan suguhan cerita yang menggelitik saraf senyum. Di pesantren mana pun itu yang pernah aku ketahui. Kesederhanaan dan kemuliaan ilmu di sana adalah kombinasi yang pas untuk menjadikan cerita-cerita di sana memiliki hikmah dan pelajaran, beberapa cerita lainnya menjadi penyegar fikiran dan perasaan. Seperti yang kali ini aku tuliskan, beberapa cerita tentang kehidupan santri bersama sabun yang pernah aku dapatkan selama 6 tahun menyantri di lingkungan santri putra PPHK.

Apa urusan santri dengan sabun? Sesederhana kita memahami relasi manusia normal dengan sabun pada umumnya. Rasa-rasanya, kita –manusia dan normal—tak bisa hidup tanpa sabun, bagai dua sisi mata uang, bagai punguk merindukan bulan, bagai pinang dibelah berduaan, hehe.. namun ceritanya akan menjadi gak biasa dan lebih berbumbu jika sabun dan santri telah bertemu. Berikut ini bukti-buktinya;

Senin, 28 Juli 2014

Gemuruh Berita dari Palestina

(gemuruh)
Gemuruh reruntuh megah rumah dan cita-cita
Gemerisik sendu tangis mata dan darah luka
Anak, tak lagi ber-ibu-bapak
Para ibu, lagi-lagi kehilangan anak
Tubuh hampir tak mengenal kata utuh
Kelu, entah keberapa kian lidah mengeluh dan mengaduh

Senin, 05 Mei 2014

Aku dan Himmah

Beberapa waktu yang lalu di sebuah grup jejaring sosial, aku mendapatkan sebuah nasihat yang sangat nancep di hati dan fikiran;
"Segala yang karena Allah tidak akan pernah berhenti, sekarang lihatlah apakah ada yang terhenti dari hidupmu? Mengapa? Karena kau tak benar-benar melakukannya karena Allah…
Semakin tinggi ketaatan seharusnya berbanding lurus dengan pengabdian, karena ikhlas yang benar selalu berbuah amal, lantas apa yang sebenarnya terjadi jika amalmu pun tak lagi tampak?"

Jumat, 28 Maret 2014

Jum'at, di Sebuah Tempat

Jum'at

Murottal masjid Al-Husna

Seruan bersiap bersegera

Terik mentari menyengat

Peluh mengalir dari pori-pori olahraga pagi

Lalu lalang jilbab putih dan jubah hitam, bergantian dengan baju koko dan kemeja putih bercelana bahan kain warna hitam

Secarik kertas izin berstempel 'Bidang Kedisiplinan' selayaknya tiket keluar masuk tempat hiburan

Kamis, 27 Maret 2014

Sebuah Cerita Menuju 'Nyoblos' PEMILU 2014

Ceritanya, sebuah negeri sedang riuh-ramai mempersiapkan momentum Pemilihan Umum (PEMILU) 2014, dan seorang anak manusia ini tak mau kalah lalu ikut-ikutan meriuhramaikan dirinya…

By the way, tulisan ini hadir dengan berlepas diri dari kontroversi golput-goltam-golputamkun(?), juga dari kontroversi keikutsertaan dalam PEMILU sebagai produk sistem demokrasi yang belum disertifikasi halâl Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aku sudah mantap selesai dari kontroversi tiada ujung itu dan memutuskan untuk mengambil hak pilih, menyumbangkan suara sebagai bagian kecil dari kontribusiku untuk perbaikan-perbaikan di negeriku, di tanah-air tempat tinggalku juga tempat tinggal orang-orang yang aku cintai ini. Sefrekuensi dengan fatwa MUI tentang kewajiban mengangkat pemimpin (yang lebih dikenal dengan fatwa haram golput). Masih ada orang-orang yang saleh-salehah-kompeten-bijak-taat-kuat yang aku kenal dan layak aku perjuangkan untuk terpilih sebagai pemimpin, juga masih ada (banyak) orang-orang yang oportunis-pragmatis-tengil-usil-jahil yang aku kenal dan layak dicegah langkahnya dalam ajang PEMILU 2014 ini sebelum menambah taraf keparahan dan kuantitas daftar kerusakan dalam negeri. *ini agak sok-sokan heroik -_-“*

Jumat, 28 Februari 2014

Refleksi Perih dan Peluh

Batas, ketika tegak menjadi patah lalu jatuh..

Ada pula yang memilih 'menyerah'
Mereka yang sudah jatuh sebelum patah
Mereka yang mundur sebelum melangkah