Senin, 02 September 2013

Dalam Ukhuwwah

Apa yang ada dalam hitungan waktu ini
Tak terbaca dalam wujud angka
Apa yang ada dalam ikatan waktu ini
Tak terkurung dalam rangkai kata

Seperti itulah kisah mengendapnya rasa
Rasa yang tak terharga tumpukan harta
Rasa yang tak dikenang rekam peristiwa

Harganya adalah taqdir
Tiada satu pun makhluk bisa menulisnya
Talinya adalah iman
Yang diikatkan hanya oleh Penciptanya

Ukhuwwah,
Dalam dekapnya kita berjumpa
Dalam citanya kita berpisah

***

"dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana"
(Al-Anfaal : 63)

*catatan sebuah forum Syawalan
Yogyakarta, 31 Agustus 2013

Rabu, 26 Juni 2013

Muhasabah Resah di Gempita Cita

Tertatih-tatih kita menapak tinggi letih
Hingga rasanya berjatuhan semua harapan dari perbekalan
Terbahak-bahak kita menjejak ujung puncak
Hingga berkerap terlupakan semua tujuan dari perenungan

Bersama gejolak peraduan angan dan tantangan, hampir tak bersisa harap, hingga sujud mampu menembus bumi dan desak tangis mampu menembus langit.
Bersama gempita perayaan angan dan impian, hingga tak teringat harap, hingga sujud lenyap dari memori dan gelak tawa mengguncang cakrawala.

Senin, 17 Juni 2013

Perspektif dan Metafora

Nilai kehidupan yang kita kenal umumnya membuat kita akan berfikir bahwa makanan super enak sekalipun akan menjatuhkan selera dan bahkan mengundang amarah ketika disuguhkan atau disodorkan dengan menggunakan kaki. Sebagaimana hal lainnya, kita akan berpikir dalam dan panjang bahkan hingga menahan diri untuk menyatakan “makanannya gak enak!!” ketika orang yang menyuguhkannya adalah sosok yang baik hati, rupa, kata, dan tata.

Tentang sebuah sajian. Dalam posisi penyaji, jika kita ingin mendapatkan timbal balik yang baik maka cara penyajian adalah aspeknya yang vital.

Senin, 10 Juni 2013

Antara Aku dan Sahabat di Panggung Gemerlap

Seorang aku berdiri di sana, di tengah-tengah kerumunan manusia. Beberapa kali memaksa menerobos, menyelusup demi kursi yang kosong ditinggalkan untuk sekedar berdamai dengan denyut pegal bahu dan kaki.

Di saat semua wajah berpoleskan rias aneka warna, rambut-rambut bertatakan ramuan mahal, wangi parfum aneka negeri leluasa bersemilir, baju-baju nan molek menebar kekaguman, lengan-lengan berjinjingkan tas bertatah logam mulia, tangan-tangan bergenggamkan gadget terbaru dan termahal, siluet blits kamera saling berbalas, postur-postur tegap dan semampai penuh asupan gizi dan sepatu tinggi.

Diari Jogja-Jakarta-Serang di 1 Juni

(Semacam) Laporan Pertanggungjawaban
 Delegasi BEM KM UGM 2011 untuk Walimahan Lakso Anindito-Rizca Mery Adiaty



Kaus oblong dan celana olahraga yang semuanya berwarna merah untuk perjalanan menuju ibukota, Jakarta. Ya, aku suka warna merah, dia seperti memberiku energi tambahan untuk berani dan menantang hiruk-pikuk suasana perjalanan yang penuh ketidakpastian. Dan perjalananku kali ini adalah perjalanan dengan 'misi suci' sebagai seorang delegasi.

Sejak mengenal perjuangan, aku jatuh hati pada tantangan dan menduakan kenyamanan. Beberapa kali tepat konteks dan beberapa kali hanya menjadi apologi :D. Kali yang ini mungkin apologi, di saat aku harus berhadapan dengan ancaman keterlambatan sehingga meninggalkan banyak hal yang menggantung di Yogyakarta lalu menerobos celah demi celah jalanan sempit gang Kutu Dukuh dan jalanan padat Jalan Magelang, menuju Terminal Jombor. Padahal bisa saja tidak perlu menempuh cara demikian jika saja kemarin tidak berlebih waktu membaringkan sadar sampai setengah hari sehingga meninggalkan banyak agenda.

Senin, 13 Mei 2013

Jalan Sunyi Cinta




Sepoi-sepoi angin malam nyata dan maya turut membawa lirih syair sunyi:

Sekeping hati dibawa berlari
jauh melalui jalanan sepi
jalan kebenaran indah terbentang
di depan matamu, para pejuang

tapi jalan kebenaran, tak akan selamanya sepi
ada ujian yang datang melanda
ada perangkap menunggu mangsa

Akan kuatkah kaki yang melangkah
bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkah mata yang menatap
pada debu yang pastikan hinggap

berharap senang dalam berjuang bagai merindu rembulan di tengah siang
JalanNya tak seindah sentuhan mata
pangkalnya jauh, ujungnya belum tiba..

(Saujana, Suci Sekeping Hati)

***

Banyak orang yang memilih keramaian, karena yang terlihat di sana adalah sukacita kendati fana. Dan sedikit yang memilih untuk menepi dari kegerahan ramai lalu merebah diri dalam sunyi, di bawah teduh Kasih Sang Maha Pengasih.

Rabu, 17 April 2013

Janji Tamid Thifan Po Khan

Entah sudah keberapa kalinya aku 'bolos' latihan dan melatih di waktu yang disepakati. Disengaja sih, tapi memang harus ada yang dikorbankan untuk pilihan yang lebih darurat dan mafaat (dan latihan Thifan Po Khan ternyata sekarang ini lebih sering aku korbankan untuk ditinggal -_-")

Tulisan ini hanya sebagai tadzkiroh (pengingat), sekaligus penyemangat atas orientasi berlatih Thifan Po Khan, apapun aliran Thifannya.