Selasa, 24 Januari 2012

Miles Away With You: Sebuah Catatan Pertemuan dan Perjalanan Cinta

Menemukanmu adalah suatu perjuangan, ketika cinta telah terpautkan dalam hitungan yang hampir menjemukan. Aku telah jatuh cinta padamu sejak lama! Lalu hampir putus asa, di saat bekalku terancam tidak bisa memenuhi ruang untuk mendapatkanmu. Di saat setiap sudut bumi tidak memberikan jejak kepastian akan keberadaanmu yang ter-ideal. Waktu itu banyak yang menawarkan keunggulan, tapi bagiku hanya kamulah yang terunggul, yang telah tertanam mengakar kuat dalam imajinasi sadar dan mimpiku.

Teringat waktu itu, Maret 2011, di saat bundaku tersayang datang berkunjung ke Yogyakarta hendak mengantar kepergian studi kakakku ke negeri seberang. Dalam sebuah dialog kasih sayangnya, beliau memberikan pesan saktinya padaku, “nak, sudah ibu siapkan uangnya, pokoknya harus sudah dapat kepastian sebelum ibu pulang”. Ah, seketika ada desiran halus di jiwa yang mendentumkan detak jantung, membinarkan mata lahir-batin, lalu refleks lisanku memuji, “Alhamdulillaah”. Tiga hari keberadaan bundaku di Yogyakarta, di saat itu, adalah kegembiraan tiada tara juga kecemasan mengembara.


Kamu tahu apa yang kulakukan setelah itu? Nomor-nomor kuhubungi. Alamat-alamat di dunia maya kukunjungi. Halaman demi halaman iklan di media kujelajahi. Gerai demi gerai kusambangi. Jalanan Yogyakarta dipenuhi asap motorku yang terkenal mengepul tebal lagi berisik, menempuh pencarian. Ada yang hampir saja mendekati kesetaraannya dengan dirimu, namun nun jauh dia di negeri antah-berantah, yang melahirkan ekspresi ketidaksetujuan bundaku. Berkali-kali demikian. “mohon maaf mas, dia memang edisi terbatas”, seorang asing yang menjadi sasaran sumber jawabanku mengatakan demikian. Ya, dirimu memang istimewa.

Tiga hari telah usai, namun pesan sakti bundaku tersayang belum sampai aku wujudkan. Ada raut kesal di sana, yang membutuhkan bukti kesungguhanku untuk membuatnya kembali tersenyum yakin pada buah hatinya ini. Akhirnya beliau meridhai ketika aku meminta tambahan waktu untuk ikhtiar, bundaku pun kembali ke kampung halaman dengan ringan hati. Kepulangan yang masih belum menenangkan lahir-batin, masih menuntutku untuk terus melakukan perjalanan pencarian, masih menuntut fikirku dipenuhi oleh sosokmu.

Dan Allah memang tidak membiarkan hambaNya berlama-lama dalam keresahan yang diiring perjuangan maksimal dalam mencari jawabannya. Di detik-detik setelah bundaku melepas jejaknya di bumi Yogyakarta, di saat keputusasaan hampir menyapa di halaman demi halaman dunia nyata dan maya, sebuah informasi hadir di halaman web yang menyatakan dirinya ‘Komunitas Orang Indonesia yang Terbesar’. Seseorang di sana menawarkan solusi, dan menurutku itu yang terbaik juga ter-ideal di antara tawaran-tawaran solusi yang sempat hadir tentang cara untuk menemukan dan mendapatkanmu.

Sebuah kota yang bernama Tangerang. Aku harus menjemputmu di sana. Melahirkan diskusi panjang via pesan singkat dan telepon dengan bundaku yang diakhiri ridhonya. Aku berangkat, “Bismillaah”.

Dia pemilikmu, dan masih jelas kekagetannya ketika tahu bahwa aku berangkat dari negeri yang jauh demi menjemputmu. Lengkap sudah rasanya kegembiraanku di siang hari itu ketika bisa kuajak dirimu berjalan bersama untuk pertama kalinya. Duhai betapa dirimu seolah sesuai dengan apa yang pernah hadir dalam kenang harapku selama ini, walau 605 km telah menjadi catatan kehidupan perjalananmu sebelum kutemukan dirimu. Tak sabar rasaku waktu itu untuk merangkai suka-duka bersamamu, sehingga pertemuan serah terima dengan pemilikmu itu tidak bisa aku lalui dalam waktu lama. Jalanan juang telah menunggu kita.

Tertawa membatin aku mengingatnya, ketika harus menyambut was-was karena mengantongi tumpukan lembar uang bersama seorang sahabat sekeluar dari sebuah bilik Anjungan Tunai Mandiri. Dibumbui drama tragis mencari-cari supermarket yang menjual amplop elegan dan dialog kikuk dengan satpam kompleks perumahan elit yang melihatku melakukan gerak-gerik mencurigakan di taman kompleks, aku yang sedang menghitung lembaran-lembaran merah di balik pohon taman, setelah sebelumnya melintas di depan rumahmu waktu itu dan mendapat lirikan tanda tanya dari seorang pria jangkung yang nampak menjagamu di sampingnya. Pria yang ternyata pemilikmu, pria yang memiliki kepercayaan keluarga yang aneh tentang kesialan dan pemutusan ikatan kekeluargaan sehingga dengan mudahnya melepaskanmu untukku.

Tertawa membatinku masih belum usai ketika kembali teringat di perjalanan pertama saat aku memboyongmu hendak menemui kedua orang tuaku di Ciamis dan di tengah perjalanannya berencana untuk mampir menghadiri pernikahan seorang sahabat di Kuningan. Perjalanan terpanjang yang pernah kita tempuh untuk dua sosok yang baru menjalin pertemuan, setelah menghabiskan malam pertama kita di Tangerang. Jalanan Cirebon ternyata tidak akrab dengan kita, dia menagih kita berkenalan dengan Kepolisian Palimanan setelah tak sengaja kita memasuki jalanan terlarang, tol. Aku ceroboh membaca tanda sehingga akhirnya kita diangkut ke atas –semacam- mobil yang biasa mengangkut tahanan, serasa menjadi residivis, kita dibawa ke pos patroli jalan tol. Penantian dalam gelisah. Ancaman dan perdebatan tiada guna. Mereka mengancam kerugian besar jika sampai Polisi asli yang menangani. Setelah menuntut uang puluhan ribu untuk “uang lelah”, “bensin” dan “rokok” dengan tanpa ekspresi malu, aku gunakan senjata identitas dan argumenku sebagai mahasiswa aktivis penentang korupsi untuk melawan penjaga-penjaga tol ingusan itu. Kamu yang waktu itu ditinggal di parkiran harusnya mengetahui betapa percaya diri dan jumawanya aku menghadapi mereka. Akhirnya polisi dari pusat kota datang menagih konfirmasi, lalu lepas sudah perkara tanpa pungutan liar dengan konsekuensi penahanan STNK untuk sidang sepekan kemudian.

Kamu masih ingat juga kan, ketika perjalanan Kuningan-Ciamis kita tempuh dengan menembus derasnya hujan dan gelapnya malam hari. Waktu itu kita berdua terjatuh dalam derasnya aliran air hujan dan menorehkan luka pertama pada dirimu. Aku menyesal tidak lebih awas dalam perjalanan. Pertigaan besar Cikijing di malam hari itu menyimpan memori tersendiri atas peristiwa itu. Masih terekam jelas juga ketika bundaku mengekspresikan kekhawatirannya yang teramat besar sesampainya kita menghadap beliau di Ciamis, ketika beliau mengetahui bahwa kita telah menempuh perjalanan dari Tangerang ke Ciamis, perjalanan yang jauh dan menguras energi, namun akhirnya beliau tersenyum lega ketika melihat sosokmu yang memang menawan hati.

Tertawa membatinku masih akan berlanjut menghadapi kejadian pengorbanan ayah-bundaku yang mencoba datang di persidangan hasil perkara jalanan tol di Cirebon itu. Mereka hendak mewakili anaknya ini yang masih hijau tentang kebijaksanaan dan tidak bisa menghadiri undangan sidang karena tertawan kehidupan perkuliahan di Yogyakarta. Mereka akhirnya harus membayar denda yang lebih mahal dari jumlah pungutan liar yang ditodongkan di pos patroli jalan tol, di samping susah-payahnya mereka menempuh perjalanan Ciamis-Cirebon. Perjuangan menegakkan al-haq di negeri ini memang menagih banyak haru, sakit dan pengorbanan, seharu dan sesakit perasaanku mengetahui perjuangan dan pengorbanan ayah-bundaku kala itu.

Kini kamu tahu kan, betapa luar biasa dan uniknya pertemuan kita?!

Duhai engkau yang kini setia mendampingi perjalananku, aku terinspirasi oleh Rasulullah saw. yang selalu memberikan nama-nama yang baik juga indah kepada sahabat-sahabat, isteri-isteri, hewan-hewan peliharaan, dan bahkan pada barang-barang kesayangan milik beliau, maka aku berikan nama “Hamraa Tsania” padamu, yang artinya “Si Merah II”. Merah yang bukan hanya secara penampakan fisik, tapi juga Merah dalam makna filosofis; cinta, kehangatan, keberanian, kesungguhan, perjuangan, ketegasan, waspada, kehati-hatian. Dirimulah si Merah yang kedua. Ya, karena sebelum dirimu ada “Hamraa”, si Merah yang telah lebih awal hadir di kehidupanku dan membersamai jalan-jalan juangku selama 2 tahun lamanya di Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat ini. Hamraa yang telah banyak membagikan jasa-jasanya, Hamraa yang semakin memburuk kondisinya setelah perjuangan berat dalam pengabdian di tengah-tengah hiruk-pikuk pasca musibah letusan Gunung Merapi, Yogyakarta 2010.

Hamraa Tsania-ku, tak terasa kini telah 10 bulan kita menjalin kebersamaan. Dan telah genap 10.000 km jarak yang kita tempuh bersama. Suka duka telah menjadi bagian dari perjalanan kita. Perjuangan menegakkan kebaikan menjadi warna obsesi yang telah kita sepakati untuk kita celupkan di setiap perjalanan kita. Sebuah do’a kukumandangkan, semoga keridhaan Allah ta’ala senantiasa menaungi hari-hari kita sehingga kita terus konsisten dengan perjalanan kita, menuai keberkahan di setiap putaran rodamu.


Yogyakarta, 23 Januari 2012
Catatan Cinta untuk Hamraa Tsania (Bajaj XCD 125 DTS-Si)

9 komentar:

  1. Hehehe, Ternyata motormu to Boy, aku kira apaan, (pembaca kecewa) :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha.. ampun deh Helmi, Unik, maaf kalo kecewa :D

      ungkapan cinta memang bisa sesederhana itu (apa lebay ya?!)

      Hapus
  2. dalem ya hubungannya
    he

    salam deh buat Hamraa tsania dari munir,
    supra x ku.
    ^^,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Desy, supaya menambah ghirah perjuangan kalo harus mondar-mandir di jalanan memenuhi panggilan B-)

      salam segera disampaikan, siipp!!

      Hapus
  3. sangat mengecewakan pembaca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha, maaf ya pemirsa kalau ada yang tidak berkenan.. :D

      Hapus
  4. hehe... salam buat Hamraa tsania dari DeKa. I know what u feel.
    Kalau zaman dulu, para pejuang sangat menyayangi dan menghargai kudanya.. Karena kuda tunggangan itulah yang membantu mereka dlm berperang. Zaman sekarang, kita sangat terbantu dgn kendaraan kita.. Jadi jg harus diperlakukan & dirawat dgn baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh, baru baca komen yang ini, maaf maaf rul :D

      salam balik ya buat Deka

      Hamraa sekarang lagi sakit, belum dapet dokter yang bisa bantu nyembuhin.. mohon do'anya ya :')

      Hapus