Sabtu, 25 Januari 2014

Dari Rahim yang Sama

Kita ditakdirkan hadir dari rahim yang sama, dari sepasang manusia yang sama, tumbuh dan berkembang mula di sana. Belum genap hak menyusuku habis, ibu kita mengandung lalu melahirkanmu. Tak pernah aku sesali lalu menuntut ganti, apatah lagi benci, waktu itu kita hanya dua makhluk yang belum sadar tentang hak dan kewajiban insani.

Kita ditakdirkan tumbuh dan berkembang dalam rumah yang sama, meski kamar kita berbeda. Aku anak laki-laki, kamu anak perempuan. Di rumah itu, aku tumbuh sebagai anak laki-laki yang pendiam, kaku, patuh, penurut, dan penakut. Sedangkan kamu tumbuh sebagai anak perempuan yang enerjik, luwes, pemberontak, dan pemberani.

Atraksi kabur dari rumah melalui jendela, atraksi menanam butiran tasbih di lubang hidung sampai orang tua kita tergopoh-gopoh membawamu ke dokter THT hingga tengah malam, atraksi terlepas dari ayunan kaki kakak kita lalu menabrak pojokan tajam meja kayu yang membuat kepalamu bocor, atraksi berkali-kali menatap siaran televisi dalam jarak satu depa yang membutmu menjadi satu-satunya anak berkacamata di keluarga kita, atraksi menginjak piring kotor hingga pecah yang lalu merobek kulit-daging-dan urat kakimu, atraksi memanjat hingga pucuk pohon kérsen (talok) di sekolah yang membuat nasibnya berumur pendek karena akhirnya ditebang pengurus sekolah --(katanya) demi mengkhawatirkanmu--, dan atraksimu yang lainnya, yang kemudian kamu akhiri dengan tangisanmu dan kehebohan omelan orang-orang di sekitar kita. Dan kamu satu-satunya anak di keluarga kita yang berani menegur bapak untuk berhenti merokok sementara aku malah membantunya menyalakan rokok.

Betapa enerjik dan beraninya kamu, dan aku waktu itu lebih sering memilih untuk membungkam ucap, antara iri dan kagum. Ya, bagaimana tidak? Aku yang waktu itu selalu merengek untuk tidur bersama ibu-bapak atau mengundang teman menginap semalam demi menemani tidurku yang dipenuhi imajinasi setan-setan di televisi, selalu tersisih dari permainan-permainan bocah laki-laki, hanya berani memanjat dahan terbawah dari pohon kérsen, selalu menangis agar dibelikan gameboat dan Texas Chicken yang berhadiah mainan, rasanya wajib iri dan kagum padamu yang nampak bebas dan tanpa beban. Aku menemukan dunia yang berbeda pada dirimu. Entah kamu tahu atau tidak, iri dan kagumku itu yang kemudian sering memancingku untuk beberapa kali berseteru denganmu, menatap dengan pandangan remeh pada dirimu, menjawab salammu dengan ketus atau candaan, meledekmu di depan teman-temanku yang berkunjung main ke rumah, memanfaatkanmu untuk membujuk ibu-bapak kita agar mereka membelikan kita sesuatu, mengacuhkanmu yang menjadi anak bawang di kelas TK-ku..

Aku sempat sombong akan kepatuhanku pada kedua orang tua kita, karena kamu seringkali tak patuh dan ceroboh. Kepatuhanku itu suatu saat akhirnya roboh, karena akhirnya aku memberontak, menolak mentah-mentah rayuan ibuku untuk masuk sekolah dasar Islam swasta yang selalu dianggap rendahan dalam obrolan teman-teman mainku. Gengsiku mulai tumbuh. Sedangkan kamu dengan nampak ringannya mengangguk, mengiyakan rayuan beliau untuk sekolah di sana. Jadilah sepanjang masa pendidikan dasar itu, kita semakin berjauhan, aku dengan dunia sekolah negeriku dan prestasi-prestasiku yang gemilang, kamu dengan kesahajaan sekolah swastamu dan prestasi-prestasimu yang juga ikutan bersahaja. Pada masa-masa itu aku jumawa pada prestasi namun sepi dari hangatnya pertemanan, sedangkan kamu yang sahaja dalam prestasi, selalu ceria dalam dekap hangat persahabatan. Iri dan kagumku cukup mengikis di masa-masa itu, kita berada di dunia pergaulan yang berbeda, meski setiap hari kita pulang ke rumah yang sama.

Takdir kemudian menggariskan kita berlabuh di tempat yang sama dalam tumbuh kembang usia remaja kita, sebuah Pondok Pesantren. Lagi-lagi waktu itu kepatuhanku roboh, aku menolak mentah-mentah rayuan ibuku untuk masuk sekolah lanjutan tingkat pertama swasta di kampung kita yang selalu dinilai rendahan --dan memang hampir saja sekolahnya ‘bubar’-- dalam obrolan teman-teman mainku dan kemudian lebih memilih Pesantren yang katanya modern. Lagi-lagi gengsiku hadir. Sedangkan kamu dengan nampak ringannya mengangguk, mengiyakan rayuan beliau untuk mengikuti jejakku ke Pesantren itu. Satu pelajaran tentangmu, ternyata kamu sulit kutebak, terkadang di luar stereotipku tentangmu yang pemberontak dan ceroboh. Di Pesantren itulah aku banyak belajar lalu menemukan masa –semacam-- rekonsiliasi denganmu, bahkan menemukan cinta padamu. Kamu semakin anggun dan feminin, dan aku dilatih untuk menjadi lelaki yang kuat dan berani, ibarat salmon yang akhirnya menemukan jalan pulang. Mungkin ini salah satu hikmah dari keberadaan kita di rantauan yang sama, jauh dari kedua orang tua kita, dan dekat dengan berbagai ilmu serta para teladan ukhrawi.

Sejak saat itu, aku merasakan bahwa kita adalah satu tim yang kompak, entah kamu merasakannya atau tidak, entah aku yang terlalu lebay memaknai. Kamu mengadu, aku mendengarkan. Aku mengadu, kamu pun mendengarkan. Rasanya tidak ada rahasia lagi di antara kita, aku bagikan rahasiaku padamu, pun sebaliknya. Pertemuan-pertemuan kita di sana adalah berbagi cerita suka-duka, semangat, gagasan, hadiah, dan kerinduan. Saat-saat bertemu denganmu adalah obat rinduku pada keluarga kita, obat rinduku pada semangat meningkatkan kapasitas diri. Dan satu terpenting, kita selalu menjadi tim pencair komunikasi atas konflik ibu-bapak kita.

Dari sana, iri dan kagum kita semakin logis dan berimbang, kamu bilang iri dan kagum padaku, kamu tuliskan semuanya dengan jelas waktu itu di suratmu yang kamu berikan padaku di saat mengadu kejenuhan dan kesedihan. Kamu iri dan kagum padaku yang –katamu-- nampak menikmati sekali aktivitas-aktivitas di Pesantren, meraih beberapa prestasi dan perhatian warga Pesantren, sampai kamu katakan ingin bertukar kehidupan denganku. Dan aku padamu? Ah, rasanya tidak akan pernah kekurangan rasa iri dan kagumku, kamu yang sahaja di antara warga Pesantren telah melampauiku di prestasi yang sangat ingin aku raih, mengikuti kelas takhashshush, menghafalkan dan menjaga firman-firman Allah ta’ala, prestasi yang hanya bisa dilampaui oleh adik bungsu kita, yang hingga saat ini belum bisa aku kejar.

Sampailah juga akhirnya kita ditakdirkan berjuang di Perguruan Tinggi Negeri yang sama, fase keempat dari kehidupan kebersamaan kita. Di awal fase ini tidak ada lagi rayuan ibu kita untuk masuk ke Pergurun Tinggi tertentu, sekedar pertanyaan-pertanyaan untuk meyakinkan diri kita juga beliau, dan kita semakin menuntut independensi meski masih bergantung pada uang saku dari beliau. Waktu itu orang tua kita menitipkanmu padaku, membantumu mengurus tes masuk, mengantar bepergian, mencari tempat tinggal sementara, dan segala macamnya. Tidak ada rasa keberatan, yang ada adalah kebahagiaan bisa kembali bersama denganmu di perantauan. Alhamdulillaah jawaban tes masukmu di Perguruan Tinggi Negeri ini adalah ‘Lulus’, dengan demikian aku resmi menerima tugas dari orang tua kita sebagai walimu selama di perantauan yang sama.

Rangkaian waktu dan peristiwa membawa kadar ujiannya, hingga kita sampai di hari ini, di saat usia kita sama-sama meninggi. Dan kamu tak berhenti membuatku iri dan kagum, di saat aku merenggangkan diri dari status santri lalu berlagak seperti ustaz, kamu tetap saja merunduk teduh menjadi santri, “untuk menjaga ilmu!” ujarmu, semakin mengoyak kejumawaanku.

Perantauan kita yang ini memang berbeda dengan perantauan kita yang sebelumnya, selain berkesempatan mengasuh adik bungsu kita secara bersama-sama, kini kita berada dalam atmosfir yang lebih luas dan ramai, dan kita akhirnya menemukan orbit kita masing-masing. Meski berbeda orbit, alhamdulillaah, ternyata kamu memilih orbit dengan arah dan semangat yang sama dengan orbitku, dan aku tak pernah memaksamu untuk memilih itu. Selama arah dan semangat orbit kita sama, aku tidak pernah mengkhawatirkanmu, karena pasti akan banyak orang yang ikut terlibat mengasuhmu.

Di sini, peran dan ego kita masing-masing mengokoh, dengan tulus kamu mulai mengatakan --beberapa kali-- bahwa kamu tak ingin disama-samakan dan dibanding-bandingkan denganku. Fyuh.. “siapa yang melakukan itu?”, kamu tak pernah menjawabnya. Yah, padahal kita memang berbeda meski dari rahim yang sama, lantas apa yang kita risaukan? Oh, ya, maaf, maaf, mohon maafkan aku ya sayang, mereka yang membanding-bandingkan kita itu memang belum bijak mendefinisikan saudara kandung. Mudah-mudahan mereka segera mengerti dan tidak menuntut hal-hal di luar kemampuan juga kehendak kita.

Oh ya, belum lama ini aku menonton sebuah film animasi yang menceritakan seorang Gru bersama ketiga putri asuhnya; Margo, Edith, dan Agnes –juga dengan para minion-nya--. Mungkin ceritaku ini tidak istimewa bagimu, hehe. Aku hanya ingin menceritakan bahwa aku terkesan pada salah satu konflik di dalamnya, yaitu di saat Gru menjadi salah tingkah, gelisah, dan over protective ketika salah satu putri asuhnya, Margo, bertemu dengan Antonio. Aku rasa, respon Gru di sana mewakili respon yang umumnya terjadi pada seorang ayah. Boleh kamu percaya atau tidak, entah kenapa aku yang hanya seorang kakak laki-laki juga mengalami kondisi seperti yang terjadi pada Gru di film itu. Derai tangis dalam shalat dan zikir, tidur dengan membawa sekelumit fikiran, makan dengan lamunan, was-was atas setiap prasangka, dan rasa untuk terus ingin tahu tanpa diketahui. Aku berfikir dan mengira, bapak kita mungkin akan merasakan konflik batin yang lebih dahsyat dari yang aku rasakan ini. Siapapun yang akan membawamu nanti, yang akan mengambil hak lebih untuk melindungi dan menafkahimu nanti, aku dan bapak kita memiliki tanggungjawab untuk memastikan agar dia bisa menjagamu tetap bahagia dan membawa kebahagiaanmu itu hingga di kehidupan kekal, agar dia bisa membawamu ke derajat yang lebih tinggi di hadapan Rabb kita, aku berharap kamu mengerti kelakuan kami.

Adikku yang salihat, hari ini usiamu telah genap 23 tahun, telah sepanjang masa itu juga fase kebersamaan kita. Aku memohon maafmu, seluas-luasnya yang kamu miliki, jika sebagai kakak ternyata aku masih kurang memberikan hak cinta dan perhatianku padamu, masih terlalu kikir membimbingmu, masih terlalu lemah untuk menjadi qowwaam dan teladanmu, masih sering lengah untuk membersamai langkah-langkahmu. Entah kamu merasakannya atau tidak, entah aku yang terlalu lebay memaknai, semakin kini aku semakin merasakan bahwa aku mulai mirip seperti bapak kita, dan kamu mulai mirip seperti ibu kita. Padahal aku dan ibu kita memiliki golongan darah yang sama dan kamu dengan bapak kita memiliki golongan darah yang sama --kesamaan golongan darah memang tidak melulu membuat karakter seseorang sama dengan seseorang lainnya--. Aku mengaku salah-kamu benar, aku mengalah-kamu menang, aku dengan kerumitan rasioku-kamu dengan kesertamertaan emosimu, aku yang semakin cair dan sok bercanda-kamu yang semakin judes dan berkuasa, aku kera di hutan rimba-kamu gunung es di kutub Utara. Gak masalah meski aku menjadi sangat merasa bersalah, kamu tetap adikku yang sangat aku sayangi.

Setelah fase kita di sini selesai, berganti, kita belum mengetahui nuansa fase berikutnya seperti apa. Firasatku membisik berkata bahwa orbit kita akan semakin berjauhan, mudah-mudahan tetap di arah dan semangat yang sama, aku berharap begitu karena aku mencintaimu tapi juga tak ingin memaksamu memaknai hidup seperti dalam perspektifku.

Baarakallaahu fii ‘umriki, semoga usiamu dan usiaku penuh dengan keberkahan, semoga sisa-sisa usia kita penuh guna, semoga hidupmu dan hidupku penuh kebermanfaatan nan menginspirasi kebaikan di semesta kehidupan.


Yogyakarta, 25 Januari 2014





10 komentar:

  1. Bagus, Mas. Terharu bacanya :"

    BalasHapus
  2. jadi teringat mbak saya..
    dulu kita selalu bertengkar dan berselisih paham, namun ketika kita telah dewasa masa- masa itu justru jadi kenangan indah untuk ikatan batin diantara kami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. rasanya semua anak dengan saudara kandungnya --bahkan juga mungkin anak2 tetangganya-- mengalami proses hidup yang sama; berantem! hehe..

      iya mba, kalo diinget2 pasti bisa bikin senyamsenyum sendiri rasa haru :')

      Hapus
  3. Pas baru baca sampai bagian 'Sedangkan kamu tumbuh sebagai anak perempuan yang enerjik, luwes, pemberontak, dan pemberani' udah sangat bisa ditebak siapa orang yg dimaksud... :D

    Kalau bagian 'mengacuhkanmu yang menjadi anak bawang di kelas TK-ku..' ini mirip dgn perlakuan kakak yg pas di atas sy ke saya pas masih lecil =.= emg kebanyakan anak laki2 yg masih kecil itu sebel sama adek perempuannya ya -.-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. gampang ya nebaknya :')

      kayaknya begitu Rul, bahkan pun sama adek laki2nya (pengalaman punya kakak laki-laki juga) ..

      beda kalo kakak perempuan, yang rata2 (setahuku dan sepengamatanku) nampak sayang dan perhatian sama adek2nya :')

      Hapus
    2. kalau bagian 'aku tumbuh sebagai anak laki-laki yang pendiam, kaku, patuh, penurut, dan penakut' saya no komen aja lah ^^v


      pas kecil kakak laki itu emang (agak) nyebelin. Tapi pas udah gede lumayan berguna.... jadi tukang anter jemput & bodyguard ^^

      Hapus
    3. Hehe.. iya Rul, kasian banget dah si 'aku' itu :')

      yah.. mungkin perasaan si kakak laki itu juga mirip2 Rul, udah gede dan insting laki2nya tumbuh, bangga merasa menjadi sosok yang berguna buat adik perempuannya..

      Hapus
  4. Balasan
    1. aku juga iri nih sama Mba, punya banyak adik laki2, hehe :D

      Hapus